

IBARAT TANAH DAN HUJAN..
Dalam sebuah hadis sahih (Riwayat Al-Bukhari no. 79 dan Muslim no. 6093), Rasulullah saw telah membuat satu perumpamaan tentang hidayah dan ilmu yang dibawa oleh Baginda untuk seluruh alam diibaratkan seperti 'hujan'. Manakala hati-hati manusia pula Baginda ibaratkan seperti "tanah". Ya, memang tepat dengan perbandingan tersebut, kerna memang asal kita daripada tanah dan akan dikembalikan jua di dalam tanah. Secara ringkasnya :
- Hidayah dan Ilmu- hujan yang lebat dan turun menimpa bumi
- Manusia - tanah di bumi
Untuk keterangan yang lebih jelas, Rasulullah saw lalu membahagikan pula tanah-tanah bumi yang menerima hujan ini kepada 3 jenis.

:: PERTAMA ::
Maksud hadis:
"Di antara tanah itu ada yang suci dan baik boleh menerima air, lalu tumbuhlah di atasnya rumput-rumput dan tumbuhan yang banyak."
Tahukah anda siapakah golongan ini? Mereka ialah manusia yang menerima ilmu dan hidayah daripada Allah swt lalu beramal dan memanfaatkannya untuk diri mereka. Malah kesan ilmu dan hidayah itu bukan sahaja untuk diri, malah mereka memanfaatkan juga orang lain yang berada di sekeliling mereka dengan mengajarkannya dan menyebarkannya.

:: KEDUA ::
Maksud hadis:
"Di antara tanah itu pula ada yang tidak menumbuhkan tanaman, ia menakung air, maka dengannya Allah swt memberikan manfaat kepada orang ramai, mereka minum, memberi minum dan juga bercucuk tanam."
Inilah golongan yang juga baik. Walaupun mungkin mereka tidak begitu mengambil faedah daripadanya atau ilmu itu tidak begitu berkesan pada diri mereka, namun mereka berjaya menyebarkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Maka dengan itu ramai manusia yang mengambil faedah malah lebih baik daripada dirinya. Namun tidak mengapa kerana sekurang-kurangnya kelebihan menyampaikan ilmu tetap menambakan sahamnya di akhirat.

:: KETIGA ::
Maksud hadis:
"Dan hujan itu menimpa pula satu jenis tanah lagi, ia hanyalah tanah gersang, tidak mampu menakung air dan tidak pula menumbuhkan rumput."
Mampukah kita berkata apa-apa lagi tentang golongan ketiga ini? Sudahlah tidak mahu menerima ilmu, dirinya juga tidak memberikan apa-apa manfaat kepada orang lain.
Di akhir bicara, Baginda saw telah membuat kesimpulan jenis tanah-tanah tersebut. Yakni maksud hadis yang berbunyi:
"Begitulah diibaratkan seseorang yang memahami agama Allah dan dirinya mendapat kebaikan daripada apa yang Allah berikan kepadaku. Dia mengetahui lalu mengajarnya kepada yang lain. Begitu jugalah diibaratkan pula seseorang yang tidak mempedulikan apa yang diberikan kepadaku dan tidak menerima petunjuk Allah yang diutuskan aku dengannya."
_____________________________________________________________________________________
Ayuh sama-sama kita fikirkan. Tanah jenis apakah kita ini? Adakah selama ini kita benar-benar memanfaatkan "hujan" itu? Hadis ini sudah cukup jelas untuk kita renung dan sama2 fikirkan. Mudah-mudahan kita ditetapkan iman dan tetap dipandu hidayah dan ilmu untuk mengharungi bahtera akhirat yang bakal kita tempuhi.
Rujukan : Majalah Solusi Isu 18
Ketahuilah! Ia tidak datang kerana dahagakan hartamu, atau kerana ingin menikmati hidangan lazat bersamamu, atau meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, atau memintamu memberikan sokongan kepada seseorang atau untuk menyelesaikan urusan yang tidak mampu ia selesaikan!!
Tetamu ini datang untuk satu urusan penting yang telah ditetapkan. Anda dan keluarga anda malah seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menggagalkannya dalam misinya tersebut!
Walaupun anda tinggal di istana-istana yang tinggi, berlindung di benteng-benteng yang kukuh dan di menara-menara yang kuat, dikawal dengan ketat, anda tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menunaikan urusannya denganmu!!
Untuk menemuimu, ia tidak perlu pintu masuk, atau meminta izin, dan membuat temujanji terlebih dahulu sebelum datang. Ia akan datang bila-bila dan dalam keadaan apapun; ketika kamu sedang sibuk ataupun lapang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang melarat, ketika kamu sedang bemusafir atau pun tinggal di tempatmu.!!
Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang lemah. Ia tidak akan terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan sahabat-sahabat yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk menilai semula perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali urusanmu!
Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak bererti apa-apa baginya dan tidak membuatnya berpaling dari tujuan asal nya!
Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu semuanya bukan separuh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!!
Allah s.w.t berfirman, artinya:
"Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang ditugaskan untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajadah: 11)
Dan firman-Nya, artinya:
"Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. Al-An'am: 61)
Kereta Usia
Tahukah kamu bahawa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahawa kita semua menjadi musafir di tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti?
Tahukah kamu bahwa pusingan kehidupan hampir akan terhenti dan 'kereta usia' sudah mendekati destinasi terakhirnya? Sebahagian orang soleh mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, "Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?"
Berhati-hatilah!
Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah s.w.t. sebutkan, mafhumnya:
"Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?" (QS. Muhammad: 27)
Atau firman-Nya, mafhumnya:
"(Iaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun." (Malaikat menjawab), "
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitimu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?
Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan soalat dua raka'at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa walaupun sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?
‘Kontrak' amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!
Allah s.w.t. berfirman, yang bermaksud :
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia)." Agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Persiapkanlah Dirimu!
Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu untuk menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah Al-Jabbar?
Dari ‘Adi bin Hatim r.a. dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda,
"Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penterjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih malang darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Kerana itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik." (Muttafaqun 'alaih)
Hitungkanlah Dirimu!
Saudaraku, bermuhasabahlah ke atas dirimu di saat masa lapang mu, fikirkanlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa lapangmu untuk masa sulit dan keperluanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan dicatit di lembaran amalmu.
Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cubaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan bertolak ansur denganmu!
_____________________________________________________________________________________

- Ibuku, Fauziah bt Ismail yang setia menjadi guruku sepanjang hidupku.(syukran ya ummi!)
- Guru2ku di tadika yang mengajarku tulis baca
- Guru-guruku di SK Sri Melor yang tidak mengenal erti lelah
- Guru-guruku di SMKA Melor yg mengajarku menjadi dewasa
- Pensyarah2 IPG Kampus Tuanku Bainun, yg setia mencurahkan ilmu agar ku menjadi guru berbakti di suatu masa kelak
- Sahabat2 bakal guru di IPG KTB dan seluruh IPG di Malaysia
- dan kepada diriku juga yg bakal bergelar seorang GURU

- daftar untuk menjadi pelanggan
- buat pilihan produk
- pilih cara penghantaran
- pilih cara pembayaran
- periksa status penghantaran produk






